sayplanet

Monday, December 18, 2006

bani abbasiyah

MASA KEEMASAN DINASTI ABBASIYAH DAN LAHIRNYA PARA INTELEKTUAL MUSLIM

I. PENDAHULUAN

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa dinamakan bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaanya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d 656 H(1258 M). Adapun pendirian dinasti ini dianggap sebagai suatu kemenangan bagi ide yang dianjurkan oleh kalangan bani Hasyim setelah kewafatan nabi Muhammad SAW, agar jabatan khalifah di serahkan kepada keluarga rosul dan sanak saudaranya. Tetapi ide ini dikalahkan di zaman permulaan islam, dimana pemikiran islam yang sehat menetapkan bahwa jabatan khalifah itu adalah kepunyaan kaum muslimin.

Adapun dinasti Abbasiyah ini berkedudukan di al-Hasyimiyah, tetapi kemudian di pindah ke Bagdad,dekat bekas ibukota Persia, Ctesipon, tahun 762M oleh kholifah Al-Mansur demi mempertahankan kekuasaan. Secara turun temurun kurang lebih 37 khalifah pernah berkuasa di negeri ini dan pada masa dinasti Abbasiyah ini islam mencapai puncak kejayaannya dalam segala bidang. Sedangkan pada masa ini pula bangsa barat masih tertinggal jauh dengan umat islam.

Zaman pemerintahan Abbasiyah yang pertama merupakan puncak keemasan dinasti ini. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran, masyarakat mencapai tingkat tertinggi, kaum muslimin mulai berhubungan dengan kebudayaan asing, seperti kebudayaan Persi, Hindu, dan Yunani. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

Kemajuan di segala bidang yang diperoleh bani Abbasiyah menempatkan bahwa bani Abbasiyah lebih baik dari bani Umayah. Di samping itu, pada masa dinasti ini banyak terlahir tokoh-tokoh intelektual muslim yang cukup berpengaruh sampai saat ini.

[1]

II. PEMBAHASAN

A. Masa Keemasan Bani Abbasiyah

Sebelum kita membahas tentang masa keemasan dinasti Abbasiyah, mari kita menengok sebentar hal-hal sebagai berikut:

a. Proses Pembentukan Bani Abbasiyah.

Dinasti Abbasiyah mewarisi imperium dari Dinasti Umayyah. Hasil besar yang dicapai oleh dinasti ini dimungkinkan karena landasannya telah dipersiapkan oleh Umayyah dan Abbasiyah memanfaatkannya.[2]

Dinasti abbasiyah mencapai keberhasilannya disebabkan karena dasar-dasarnya telah berakar semenjak Umayyah berkuasa. Ditinjau dari proses pembentukannya dinasti Abbasiyah didirikan atas dasar-dasar antara lain:[3]

q Dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan yang timbul pada dinasti sebelumnya.

q Dasar universal (bersifat universal), tidak berlandaskan atas kesukuan.

q Dasar politik dan administrasi menyeluruh, tidak diangkat atas dasar keningratan.

q Dasar kesamaan hubungan dalam hukum bagi setiap masyarakat islam.

q Pemerintah bersifat muslim moderat, ras arab hanya dipandang sebagai salah satu bagian saja diantara ras-ras lain.

q Hak memerintah sebagai ahli waris nabi masih tetap di tangan mereka.

b.Faktor Pendukung Berdirinya Dinasti Abbasiyah

Diantara situasi yang mendorong berdirinya Dinasti Abbasiyah dan menjadi lemah dinasti sebelumnya adalah sebagai berikut:[4]

q Timbulnya pertentangan politik antara Muawiyah dengan pengikut Ali bin Abi Thalib (Syiah).

q Munculnya golongan Khawarij, akibat pertentangan politik antara Muawiyah dan Syiah, dan kebijakan-kebijakan land reform yang kurang adil.

q Timbulnya politik penyelesaian khilafah dan konflik dengan cara damai.

q Adanya dasar penafsiran bahwa keputusan politik harus didasarkan pada Al-Qur’an dan golongan Khawarij orang Islam non-Arab.

q Adanya konsep hijrah di mana setiap orang harus bergabung dengan golongan Khawarij, dan yang tidak bergabung dianggap sebagai orang yang ada pada dar al-harb, serta hanya golongan khowarijlah yang ada pada dar al-islam.

q Bertambah gigihnya perlawanan pengikut Syiah terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husen bin Ali dalam pertempuran Karbala.

q Munculnya faham mawali,[5] yaitu faham tentang perbedaan antara orang islam arab dengan non-Arab.

Jika kita berbicara tentang masa keemasan Dinasti Abbasiyah maka kita tidak akan pernah lepas dari Islam di Baghdad secara umum. Islam Baghdad menurut Luthfi Assyaukanie (seorang aktivis Jaringan islam Liberal) adalah “Islam peradaban”, Islam yang mencapai puncak keemasannya di mana berbagai aspek kehidupan kaum Muslim mengalami artikulasi. Adapun salah satu aspek yang kerap dijadikan tolok ukur kemegahan Baghdad dan sekaligus sebagai standar kesuksesan peradaban Islam adalah pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologinya. Seperti direkam dalam berbagai buku sejarah, Islam Baghdad adalah islam yang gemilang yang menandakan pencapaian agama yang dibawa Nabi Muhammad ini. Tanpa Baghdad, agama islam tetaplah menjadi sebuah agama Padang pasir yang tak banyak menarik perhatian orang.

Kekhalifahan Abbasiyah adalah model era keemasan islam. Baghdad yang dijadikan ibu kota kerajaan ini, merepresentasikan kota modern seperti New York, Paris, atau London di dalam peradaban Barat modern. Kita tak perlu melebih-lebihkan kenyataan ini. Cukuplah kesaksian yang diberikan oleh “Marshal Hodgson” dalam karya monumentalnya, The Venture of Islam, yang mengatakan bahwa Baghdad merupakan bintang cemerlang di semua gugus Kota yang ada di planet bumi saat itu.

Luthfi juga mengatakan bahwa, Baghdad adalah “kota manusia” dan bukan “kota Tuhan.” Jika islam diturunkan oleh Allah ke muka bumi ini untuk dipeluk dan dijalani manusia, maka sebuah “kota manusia” (dengan segala kekurangan dan kelebihannya) yang paling layak dibangun untuk agama ini, bukan kota Tuhan. “Kota Tuhan” adalah sebuah Kota yang penuh dengan simbol-simbol kesucian, penuh dengan larangan-larangan.

Di antara arsitek kota Baghdad yang sangat berjasa dalam menyusun batu-bata peradaban islam adalah Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun, dua khalifah paling masyhur dalam sejarah Abbasiyah. Al-Rasyid dan Al-Ma’mun dikenal sebagai khalifah-khalifah yang arif dan bijak. Pada era kekuasaan mereka, peradaban islam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang keilmuan, kesenian, dan kebudayaan.

Kedua khalifah tersebut dikenal sangat mendukung ilmu pengetahuan. Mereka mendirikan lembaga-lembaga ilmiah dan mengundang para sarjana Muslim dan non-Muslim untuk melakukan penelitian dan penterjemahan buku-buku asing. Nama Al-Ma’mun sangat erat dikaitkan dengan Darul Hikmah, pusat intelektualitas Islam. Pada zamannyalah, karya-karya penting filsafat dan sains dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan secara luas ke dalam bahasa Arab. Al-Rasyid dan Al-Ma’mun adalah dua tipikal pemimpin Muslim yang berusaha membangun Islam sebagai peradaban dunia.

Adapun kota-kota lain yang berusaha mati-matian untuk menyaingi Baghdad (dalam semua hal) adalah Cordova, Granada, dan Sevilla, tiga kota penting di Spanyol yang dikuasai oleh puak Umayah. Setelah digulingkan Abbasiyah, sebagian anggota keluarga Umayah lari ke Spanyol (yang telah takluk di bawah imperium islam) dan meneruskan dinasti Umayah disana.

Sama seperti Baghdad (dan dalam beberapa hal mengunggulinya) ketiga kota itu merupakan mercusuar peradaban islam di masa silam. Cordova sebagai ibu kota adalah penjelmaan Baghdad di belahan Barat kekaisaran islam.

Islam Bagdad dan Islam Cordova adalah dua model peradaban yang telah menjadi fakta obyektif. Kedua model islam ini adalah penjelmaan ajaran Islam dalam maknanya yang paling luas. Pencapaiannya, tentu saja jangan dibandingkan dengan fantasi-fantasi utopia para penulis Muslim revivalis yang cenderung menolak dan bahkan mengecam kedua model Islam ini.

Kalangan Muslim revivalis sebenarnya mengagumi pencapaian Islam, tapi tak mau menerima proses kesejarahan yang membentuknya. Bagi mereka, islam yang ideal adalah islam yang dijalankan secara suci, tanpa dosa, dan bersifat ilahi. Tentu saja, islam jenis ini hanya ada dalam literatur utopisme islam yang sejak abad ke-20 diproduksi besar-besaran oleh para penulis revivalis semacam Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Qutb, Sa’id Hawwa, dan Muhammad Qutb. Di dunia nyata, bahkan Nabi pun tak luput dari kesalahan dan dosa.

Menganggap Islam Baghdad sebagai sebuah peradaban islam yang lebih progresif, lebih lengkap, dan secara inherent lebih ideal, bukan berarti memunafikan kekurangan-kekurangannya. Bahwa kehidupan di dunia ini tidak sempurna adalah sebuah altruisme yang tak perlu ditekankan berlebihan, khususnya ketika kita berbicara tentang model- model Islam.

Kita tentu tak bisa mengukur “humanisme” Baghdad dengan standar “humanisme” Barat modern. Bahkan standar humanisme Barat modern sendiri tak akan bisa bekerja untuk masa-masa silam dalam peradaban yang sama, maksudnya masa kekaisaran Romawi dan kejayaan Yunani. Islam dan humanisme Baghdad akan mempunyai arti sebagai sebuah model kemajuan jika kita meletakkannya pada konteks zamannya, sebagaimana orang-orang Barat meletakkan kejeniusan Socrates dan Ariestoteles pada masanya.

Selain itu apabila kita melihat dari banyak sisi, peradaban Islam Baghdad lebih unggul dari islam-islam yang pernah dipraktikkan sebelumnya, termasuk islam Madinah. Dengan meminjam istilah Alqur’an, Islam Baghdad lebih kaffah atau lebih holistik. Kalaulah islam sering dianggap sebagai agama yang tak memisah-misahkan urusan dunia dan akherat, maka Baghdadlah model yang pas untuk ini.

Peradaban Islam di Baghdad dibangun berdasarkan basis teologi yang intinya diambil dari pesan-pesan universal Alquran. Alquran adalah basis teologi dan moral paling orisinal dan paling otoritatif dalam Islam. Yang lain hanyalah penafsiran terhadap kitab suci ini. Salah satu keuntungan Baghdad adalah bahwa pada masa-masa awal dinasti ini, kodifikasi teologi dan hukum Islam belum diciptakan, atau paling tidak belum tersebar luas.

Semangat universalitas dan fleksibilitas Al-Quranlah yang memungkinkan orang-orang seperti Al-Hallaj, Abu Bakar Al-Razi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd, muncul, dengan tetap mengaku Muslim, menyembah Allah, dan memberikan sumbangan pengetahuan yang berharga buat kemanusiaan.

Baghdad menjadi sentral kekuasaan Islam setelah Abu Ja'far al-Mansur (754-775 M), khalifah kedua dari Bani Abbasiyah, memindah ibu kota kerajaan dari Damaskus (Syiria) ke Baghdad pada 762 M yang dijuluki sebagai Madinat al-Salam (kota perdamaian). Sejak saat itu, kota yang terletak di tepi barat Sungai Tigris ini seakan mewarisi kerajaan-kerajaan besar Mesopotamia. Ia menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, pusat kegiatan ilmiah, dan kota pelajar yang penting. Tulisan ini akan mencoba melihat lebih jauh sejarah kebesaran peradaban Islam yang pernah terukir di Baghdad.

B. Kemajuan Dalam Berbagai Bidang dan Lahirnya Para Intelektual Muslim

a.Dalam Bidang Ilmu Pengetahuan

Dinasti Abbasiyah (750 – 1208 M) merupakan dinasti yang menelurkan konsep – konsep keemasan Islam terutama dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan. Zaman keemasan Islam yang ditandai dengan penguasaan ilmu pengetahuan diberbagai sektor telah membawa kemakmuran tersendiri pada masyarakat saat itu. Banyak ayat dalam al Qur’an yang berisi anjuran agar umat Islam mendayagunakan pikirannya sampai ketingkat yang setinggi – tingginya. Dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk keperluan manusia sendiri selaku khalifah di muka bumi. Seruan untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya juga ditemui dalam banyak hadits nabi Muhammad SAW. Ajaran Islam sendiri dalam perjalan sejarahnya merupakan agama yang secara konsisten mempertahankan diri sebagai agama yang berdasarkan kitab, yang dengan demikian mengharuskan perlunya umat Islam mengembangkan budaya baca tulis.

Kemampuan baca tulis itulah kunci dari zaman keemasan Islam saat itu. Dengan kemampuan tersebut kehidupan masyarakat menjadi makmur dan adil.
Keadaan masyarakat zaman Dinasti Abbasiyah juga merupakan hasil dari kepemimpinan para khalifah mereka. Khalifah yang terkenal zaman Dinasti Abbasiyah adalah khalifah Harun Ar- Rasyid (786 – 813 M), seorang tokoh yang masyhur dalam sejarah Islam. Namanya sebagai khalifah Abbasiyah yang terkemuka diabadikan dalam kisah seribu satu malam[6]. Dalam kisah yang masyhur di seluruh penjuru dunia itu, khalifah Ar-Rasyid digambarkan sebagai kepala negara yang adil dan pemurah, serta dekat dengan rakyat. Istananya yang megah di tepi sungai Tigris tidak hanya ramai dikunjungi para menteri dan tamu – tamu kehormatan, tetapi juga sering menjadi tempat pertemuan keluarga istana dengan para cendekiawan, ulama, penyair, filosof dan seniman. Dalam sejarah, Harun Ar – Rasyid memang dikenal sebagai pencinta ilmu pengetahuan , sastra dan filsafat, serta pelindung besar perkembangan seni dan penerbitan buku. Begitu pula putranya Khalifah Al – Ma’mun (813 – 847 M).

Ada suatu perbedaan yang sangat mendasar antara para khalifah sebelum Harun Ar – Rasyid dan putranya dengan kedua khalifah tersebut. Para khalifah terdahulu orientasi kekuasaan mereka perluasan kekuasaan. Tetapi pada masa kekuasaan kedua khalifah tersebut, orientasinya dirubah dengan membangun peradaban dan kebudayaan melalui pengembangan dan penguasaaan ilmu pengetahuan di segala bidang. Kedua khalifah tersebut dikenal sangat cinta akan ilmu pengetahuan.

Pada zaman pemerintahan kedua khalifah tersebut, dunia penulisan dan penerjemahan buku berkembang pesat, menjadikan Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban terbesar di dunia selama beberapa abad. Ada beberapa faktor yang menyebabakan ilmu dan penulisan buku berkembang pesat pada masa itu,

diantaranya:[7]

Pertama, adanya hubungan yang dinamis antar kebudayaan Arab dengan kebudayaan lain yang telah maju sebelum datangnya agama Islam. Kedua, sejak abad ke – 9 M di negeri – negeri Islam telah tumbuh pusat – pusat kebudayaan yang satu dengan lainnya saling berlomba mengembangkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Ketiga, lembaga – lembaga pendidikan dan ilmu berkembang pesat mengikuti perkembangan masjid dan lembaga keagamaan.. Faktor lain yang tidak kalah penting ialah terbongkarnya rahasia pembuatan kertas di Cina melalui tawanan – tawanan Cina yang ditangkap di Samarkand dalam beberapa pertempuran antara Baghdad dan negeri Cina. Setelah cara – cara pembuatan kertas diketahui dan dipelajari secara mendalam, maka orang – orang Islampun segera dapat membuat kertas dengan teknik yang setara dengan teknik orang – orang Cina.

Pada tahun 800 M, Harun Ar – Rasyid meresmikan pembangunan pabrik kertas pertama terbesar di dunia Islam. Pabrik kertas di Baghdad adalah pabrik kertas pertama yang terbesar di luar Cina. Pabrik kertas itulah cikal bakal lahirnya buku yang sangat dihargai dan dicintai oleh masyarakat masa itu. Buku ialah lambang kemajuan , ibu peradaban dan kebudayaan. Ketika kekhalifahan Baghdad berada dalam masa keemasan, dunia perbukuan mengalami perkembangan pesat. Begitu pula dengan para pencinta buku.

Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa itu sebagian besar dimulai dengan penerjemahan manuskrip – manuskrip secara besar – besaran dari negeri sekitar seperti Yunani, Iran, India dan Mesir. Lalu berbagai cabang ilmu, pemikiran dan filsafat, serta sastra ditransformasikan menjadi ilmu – ilmu dan pemikiran baru. Menurut Nakosterm, ada empat alasan yang mendorong terjadinya transformasi ilmu – ilmu asing ke dalam peradaban Islam, yaitu:

1. Penganiaan dan pengusiran yang dilakukan oleh kristen ortodoks yang mewakili penguasa Bizantyum atas sekte – sekte kristen, terutama Nestoris dan Monophysit.. Yang paling penting adalah mereka membawa serta tradisi ilmiah Yunani dan Helenisme. Mereka kemudian membangun persahabatan dengan umat Islam dan membuka jalur transmisi pengetahuan yang mereka bawa.

2. Faktor penting yang kedua adalah penaklukan Alexander Agung ( 336 – 323 SM ) yang mencapai Mesir, Persia dan India. Penaklukan ini secara otomatis disertai dengan penyebaran ilmu pengetahuan Yunani ke daerah – daerah tersebut.

3. Faktor ketiga ialah Akademi Jundisyapur. Akademi ini memadukan tradisi ilmiah sebagai budaya ; India, Yunani, Syiria, Hebrew dan Persia. Disinilah usaha penerjemahan kedalam bahasa Pahlevi dan Syiria berlangsung.

4. Kegiatan ilmiah bangsa Yahudi juga merupakan faktor signifikan, terutama dalam penerjemahan karya – karya Yunani dalam bahasa Ibrani dan Arab pada masa sebelum Islam datang.

Gelombang pertama penerjemahan dimulai di bawah khalifah Al Mansyur (136 – 158 H), tetapi gelombang ini mencapai puncaknya dibawah pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809 M) dan dilanjutkan putranya, al-Makmun (813-833 M). Pada masa ini gerakan penerjemahan difokuskan pada karya-karya filsafat Yunani dan sains lainnya. Al-Makmun pernah mengirim rombongan penerjemah ke Konstantinopel, Roma dan sebagainya untuk menghimpun buku-buku sains dan filsafat yang belum ada dalam Islam. untuk kemudian dibawa ke Baghdad. Rombongan ekspedisi ini terdiri atas Abu Yahya Ibnu Bathriq (w. 815 M), Muhammad Ibnu Sallam (w. 839 M), Hajja Ibnu Yusuf Ibnu Mathar (w. 833 M), dan Hunain Ibnu Ishaq (w. 874 M).

Pada masa pemerintahan al-Mutawakkil (847-861 M), seorang ahli matematika dari Sabia, Tsabit Ibnu Qurrah (w. 901 M) dan murid-muridnya menerjemahkan karya-karya Yunani terutama bidang geometri, dan astronomi, termasuk juga karya-karya Apollonius, Plato, Aristoteles, Galen, dan Archimedes..

Urat nadi dari kegiatan penerjemahan tersebut adalah sebuah perpustakaan bernama Bait al-Hikmah yang dibangun pada masa al-Makmun[8]. Dalam perpustakaan inilah karya-karya hasil penerjemahan dihimpun. Berbagai pemikiran filosofis-spekulatif dalam Islam sangat terkait dengan Bait al-Hikmah dan aktivitas penerjemahan karya-karya asing ke dalam Bahasa Arab tersebut. Perpustakaan merupakan bagian integral dari sistem pendidikan yang merupakan pusat integrasi dari kegiatan – kegiatan pendidikan secara umum dan menunjang proses belajar mengajar secara khusus. Salah satu konsep perpustakaan secara modern mengatakan bahwa perpustakaan sebagai suatu unit pelayanan. Dengan pelayanan yang baik, perpustakaan akan dapat memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kelancaran proses belajar mengajar dan lebih luas lagi dapat mendukung proses penyelenggaraan pendidikan.

Konsep pelayanan dan pendidikan ini telah diterapkan pada perpustakaan – perpustakaan zaman Dinasti Abbasiyah. Salah satu perpustakaan yang terbesar ialah perpustakaan Bait al Hikmah yang didirikan oleh khalifah Al Ma’mun pada tahun 215H/830M.[9] perpustakaan ini sangat mendukung penyelenggaraan pendidikan. Sebab perpustakaan ini lebih menyerupai sebuah universitas. Perpustakaan tersebut sampai abad ke – 9 koleksinya lebih kurang satu juta koleksi yang berisi teks berbagai ilmu pengetahuan, sastra dan filsafat dari berbagai negeri. Di dalamnya terdapat sebuah ruang baca yang megah dan tempat tinggal para pekerja perpustakaan. Disamping itu, di dalam perpustakaan tersebut juga terdapat tempat – tempat pertemuan para ilmuan untuk mengadakan diskusi – diskusi ilmiah dan tempat pengamatan bintang.

Konsep pelayanan pada masa itu juga telah berjalan dengan baik. Operasi perpustakaan yang baik biasanya didukung dengan beberapa staf yang masing – masing bertanggung jawab atas bidangnya. Perpustakaan Islam zaman itu memiliki staf – staf berikut:

1. Pustakawan kepala. Ia bertugas sebagai pucuk pimpinan perpustakaan pimpinannya.

2. Penerjemah. Posisi penerjemah dalam lembaga perpustakaan sangat signifikan, terutama sekali pada periode awal tumbuhnya lembaga ini.

3. Juru salin, bertugas memperbanyak karya – karya tertentu.

4. Petugas penjilidan yang secara khusus bertugas menjilid karya – karya yang baru ditulis dan diproduksi, atau memperbaiki buku – buku yang sudah rusak.

5. Pegawai umum, bertugas membantu pengguna perpustakaan, baik dalam menemukan buku yang dibutuhkan ataupun mengembalikan buku ke tempatnya semula .

Perpustakaan dalam sejarah Islam dikategorikan dalam tiga jenis:[10]

a. Perpustakaan umum yang biasanya adalah bagian dari masjid, madrasah atau lembaga – lembaga pendidikan lainya. Perpustakaan jenis ini terbuka untuk siapa saja yang ingin menggunakan koleksinya.

b. Perpustakaan semi – umum yang hanya terbuka bagi kalangan tertentu saja. Biasanya para ilmuan terkenal atau bangsawan. Seringkali perrpustakaan jenis ini adalah perpustakaan yang terdapat di istana – istana.

c. Perpustakaan pribadi, yaitu perpustakaan milik individu, baik sarjana ataupun orang yang mengumpulkan hanya sebagai kesenangan belaka

Semua kota utama Islam dihiasi dengan berbagai perpustakaan besar yang meladeni semangat ilmiah masyarakat sekitarnya. Kemunduran dan kehancuran perpustakaan – perpustakaan Islam dilatar belakangi oleh beberapa sebab. Perang barangkali adalah salah satu sebab utama. Serbuan Mongol, perang salib dan pengusiran muslim dari spanyol meminta korban sejumlah perpustakaan besar di kota – kota semacam Baghdad, Tripoli, Kordoba dan Granada. Pergantian pemerintahan dan ketidakstabilan politik dan ekonomi juga berpengaruh langsung, sebab kebanyakan dari perpustakaan dibiayai oleh penguasa dan bangsawan. Bencana alam, seperti banjir dan kebakaran adalah penyebab lain.

Diantara pengaruh dari gerakan penerjemahan ini adalah terjadinya gelombang helenisme I dalam Islam yang kemudian mendorong berkembangnya filsafat dalam Islam. Munculnya para filosof dalam Islam seperti al-Kindi (w. 870 M), al-Farabi (w. 950 M), Ibnu Sina (w. 1037 M) tidak dapat dilepaskan dari gerakan penerjemahan tersebut. Mereka tidak sekadar membaca dan menerjemahkan karya-karya dari Yunani, tapi juga memberi ulasan, komentar, elaborasi, dan seterusnya. Tentu saja mereka juga mendialogkan antara pemikiran filsafat Yunani dengan segi-segi ajaran Islam.

Atas dasar itu, tidak mengherankan jika beberapa segi pemikiran filsafat dalam Islam sangat nampak dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa filsafat Yunani adalah jendela yang mendorong umat Islam untuk berpikir filosofis, baik mengenai Tuhan, Nabi, maupun alam semesta.

Selain itu ada juga Nizham yang membangun Universitas Nizhamiyah pada 1065 M di Baghdad. Inilah yang disebut model pertama universitas yang kini dikenal dunia. Di berbagai kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang universitas ini. Nizham juga membangun Madrasah Hanafiah. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Banyak intelektual lahir pada masa ini. Diantaranya Zamakhzyari di bidang tafsir dan teologi, Qusyairi di bidang tafsir, Imam Al-Ghazali sebagai tokoh tasawuf, juga sastrawan Fariduddin Attar dan Omar Kayam.

Adapun faktor pendukung kemajuan ilmu pengetahuan dalam dinasti ini adalah:

a. Adanya kretivititas dari para ulama

b. Usaha dan anjuran dari para khalifah

c. aktivitas penterjemahan berbagai bidang ilmu

d. Kestabilan politik dan keuangan kerajaan abbasaiyah

e. Dasar kerajaan abbasiyah yang memberi keutamaan kepada ilmu pengetahuan.

f. Adanya sarana dan prasarana pendidikan yang baik

g. Islam menggalakkan umatnya sepaya mengkaji alam sekitar

h. Hubungan diplomatik antara kerajaan abbasiyah dengan negara luar.

i. Kedudukan Baghdad yang menjadi pusat keilmuan dan perdagangan antara bangsa

Masa keemasan Abbasiyah merupakan masa-masa kemajuan Islam yang sangat menakjubkan dan apabila kita berbicara tentang para intelektual Muslim yang ada pada waktu itu maka sangatlah banyak dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Tapi dalam makalah ini akan saya jelaskan beberapa intelektual muslim yang kita kenal sampai saat ini. Dan mungkin sebagian sudah saya sebutksn pada halaman-halaman sebelumnya.

a. Dalam Bidang Ilmu Naqli

Yang termasuk didalamnya adalah: ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, dan fiqih.

1. Ilmu Tafsir

Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma'tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua, tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.

Adapun para mufassirin yang terkenal dengan tafsir yang pertama pada masa itu adalah[11]:

- Ibn Jarir Ath Thabary, dengan tafsirnya sebanyak 30 juz.

- Ibn Athiyah Al Andalusy (Abu Muhammad Abdulhaq Bin Athiyah) 481-556 Masehi.

- As Suda yang mendasarkan tafsirannya pada Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud serta para sahabat lainnya (wafat 127 H).

- Mupatil Bin Sulaiman (wafat 150 H), tafsirnya terpengaruh dengan Taurat.

- Muhammad Ibn Ishak, tafsirnya banyak mengutip cerita Israilliyat.

Para mufassirin yang terkenal pada golongan kedua adalah:[12]

- Abu Bakar Asam (Mu’tazilah) wafat 240 H.

- Abu Muslim Muhammad Bin Bahr Isfahany (Mu’tazilah), wafat 322 H, adapun tafsirnya sebanyak 14 jilid.

- Ibnu Jaru Al Asady (mu’tazilah), wafat 387H. tafsir bismillah beliau sebanyak 120 macam.

- Abu Yunus Abdussalam Al Qazwany (Mu’tazilah), wafat 483 H. beliau menafsirkan al qur’an sangat luas, sehingga tafsir al fatihah saja sebanyak 7 jilid.

2. Ilmu Hadis.

Para ahli hadis yang termasyhur pada masa itu dan mungkin sampai sekarang masih kita kenal, diantaranya adalah:[13]

- Imam Bukhary (Abu Abdullah Muhammad Ibn Abil Hasan Al Bukhary), lahir di bukhara 194 H. dan wafat di bagdad 256 H. kitabnya yang terkenal adalah “al jami’us sahih” atau yang terkenal dengan Shahih Bukhary.

- Imam Muslim (Imam Abu Muslim Ibn Al Hajjaj Al Qusyairi An Naisabury), wafat tahun 261 H. kitabnya yang terkenal adalah “al jami’us sahih” atau yang terkenal dengan Shahih Muslim.

- Muhammad Ibn Yazid Ibn Majah Al Qazwainy (Ibn Majah), wafat tahun 273. kitabnya yang terkenal adalah “as sunan” atau yang terkenal dengan sunan Ibn Majah.

- Abu Daud Sulaiman Ibn Asy’as Al Azdy Al Sajastany (Abu Daud), wafat di Basrah tahun 275H. kitabnya yang terkenal adalah “as sunan” atau yang terkenal dengan Sunan Abu Daud.

- At Tirmidzi (Al Hafid Abu Isa Muhammad Ibn Isha Adl Dhalak at Tirmidzi). kitabnya yang terkenal adalah “as sunan” atau yang terkenal dengan Sunan at Tirmidzi.

- An Nasai (Abu Abdurrahman Ahmad Ibn Ali an Nasa’i), wafat di Makkah 303 H. kitabnya yang terkenal adalah “as sunan” atau yang terkenal dengan Sunan an Nasa’i.

- Al Hakim an Naisabury, wafat tahun 405 H.

- Al Baihaqi, wafat 458H.

- Al Ajiry, wafat 360 H.

Selain dari imam hadis yang tersebut diatas masih banyak lagi yang lain. Adapun sebagian besar dari mereka mernghabiskan waktu hidupnya untuk mengarang dan mempelajari ilmu hadis.

3. Ilmu Kalam.

Kaum mu’tazilah sangat berjasa dalam pengembangan ilmu kalam, karena mereka adalah pembela Islam yang gigih. Diantara para pelopor dan para ahli ilmu kalam yaitu: washil ibn atha’, Abu Huzail Al Alaf, Adh Dham, Abu Hasan Al Asy’ary dan imam ghazali.

4. Ilmu Tasawuf.

Ilmu tasawuf adalah salah satu ilmu yang tumbuh dan berkembang dalam masa bani abbasiyah ini. Diantara para ulama’-ulama’ tasawuf yang terkenal pada masa itu adalah:

- Al Qusyairi (Abu Kasim Abdul Karim Ibn Hawazin Al Qusyairi), wafat tahun 465 H.beliau alim dalam imu fiqih, tafsir, hadis, usul, adab dan terutama tasawuf. Kitab beliau yang terkenal mengenai tasawuf adalah “Ar Risalatul Qusyairiah”.

- Syahabuddin (Abu Hafas Umar Ibn Muhammad Syahabuddin Sahrawardy), wafat di Bagdad 632 H. kitab karangannya dalah “awariful ma’arif”.

- Imam Ghazali (Muhamad Bin Muhammad Bin Ahmad Al Ghazali), wafat tahun 502 H. kitabnya yang paling terkenal“Ihya Ulumuddin[14].

5. Ilmu Bahasa.

Para intelektual muslim yang masyhur dalam bidang ini adalah:

- Sibawaihi (Abu Basyar Umar Bin Usman), wafat 183 H.kitab karangannya erdiri dari dua ilid dengan tebal 1000 halaman.

- Al Kisai (Ali Ibn Hamzah) wafat 198 H. beliau banyak mengarang kitab tentang bahasa.

- Al Khalil Ibn Ahmad, wafat 180H. nama aslinya Abu Abdurrahman Al Khalil Bin Muhammad Al Basyari. Kitab karangannya berjudul Kitabul Ain.

- Dan masih banyak lagi.

6. Ilmu Fiqih.

Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun al-Rasyid.

Berbeda dengan Abu Hanifah, Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i (767-820 M) dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M).

Disamping empat pendiri mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhab-nya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.

b. Dalam Bidang Ilmu Aqli.

Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum atau istilahnya Ilmu Aqli, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe[15]. Al-Fargani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al- Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama al-Razi dan Ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibn Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Diantara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Selain itu juga ada Yuhana Ibnu Masawaih (w. 851 H) yang telah melakukan kajian tentang anatomi tubuh dan menulis buku berjudul al-‘Asyr fi al-Maqalat fi al-‘Ain yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata.[16] Di bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi[17], yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar dan menemukan angka nol. Kata "aljabar" berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Diantara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir.

Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah al-Syifa'. Ibn Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme.

Dalam bidang kimia ada Jabir bin Hayyan, al-Razy[18], al ‘iraqi dan seterusnya. Dalam bidang sastra kita mengenal tokoh Abu Nuwas yang hidup pada masa Harun al-Rasyid, yang memperkenalkan cerita Alf Lailah Wa Lailah (seribu satu malam).

2. Perkembangan Dalam Bidang Ekonomi.

Dalam zaman permulaan dinasti ini perbendaharaan negara sangat berlimpah, uang yang masuk lebih banyak dari pada yang dikeluarkan. Dan tokoh yang sangat berpengaruh dalam hali ini adalh al Mansur, beliau telah meletakkan dasar-dasr yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Keutamaan al mnsur dalam menguatkan dasar daulah abbasiyah dengan ketajaman fikiran, strategi dan adil adalh sama halnya denan khalifah umar ibn khattab. Adapun Sumber keuangan kerajaan abbasiyah:

a. Zakat: Kadar harta yang dikeluarkan oleh orang islam terhadap harta-harta tertentu dengan syarat-syarat tertentu dan kadar nisab yang tertentu.

b. Kharaj: Cukai tanah milik orang bukan Islam.

c. Ghanimah: Harta rampasan perang. 80 % dibahagikan kepada pejuang Islam dan 20% menurut cara yang ditetapkan dalam al-Quran

d. Fai’e: Harta yang diperolehi melalui jalan perdamaian setelah pihak musuh menyerah kalah

e. Jizyah: Bayaran yang dikenakan kepada orang bukan Islam yang mendiami negara Islam

f. Usyur: Kadar bayaran tetap yang dikenakan ke atas kapal perdagangan bukan Islam yang singgah dipelabuhan-pelabuhan negara Islam untuk tujuan perniagaan

Menurut kabar setelah khalifah al-mansyur meninggal, dalam kas negara tersisa kekayaan sebanyak 810.000.000, - dirham. Sedangkan pada zaman harun ar-rasyid kas negara yang ditinggalkan sebanyak 900.000.000,- dirham. Kecakapan ar-rasyid dalam menembah kas negara sama dengan kecakapan al mansur, mungkin yang membedkan adalh ar-rasyid mengeluarkan uang lebih banyak dari pada mansur karena mereka hidup pada zaman yang berbeda.[19]

1. Pertanian.

Bila dibandingkan dengan masa bani umayyah, bani abbasiyah sangat membela dan menghormati kaum petani dari pada zaman umayyah yang sama skali tidak menghargai mereka, bahkan menggencet mereka dengan pajak yang tinggi. Tapi pada masa abbasiyah ini para petani tidak harus mambayar pajak yang tinggi bahkan bisa bisa dikatakan ringan.

Beberapa usaha yang dilakukan untuk mendorong kaum petani agar maju adalah dengan hal-hal sebagai berikut:

- Memperlakukan “ahli zimmah” dan “mawali” dengan perlakuan yang baik dan adil, serta menjamin hak milik dan jiwa mereka, sehingga kembalilah mereka bertani di seluruh penjuru negeri.

- Mengambil tindakan keras kepada para pejabat yang berlaku keras pada para petani.

- Memperluas daerah-daerah pertanian di seluruh penjuru negeri.

- Membangun dan menyempurnakan perhubungan ke daerah-daerah pertanian, baik darat maupun air.

- Membangun bendungan-bendungan, menggali kanal-kanal sehingga terciptalah irigasi yang sangat mambantu masyarakat dalam kegiatan mereka.

2. Perindustrian.

Selain di bidang pertanian para khalifah juga sangat mementingkan bidang perindustrian. Para khalifah menganjurkan kepada rakyat untuk beramai-ramai mengembangkan berbagai industri, selain itu para khalifah juga mempergunakan sumber kekayaan yang berasal dari tambang. seng, dan besi yang berasal dari tambang-tambang yang berada di Persia dan Khurasan. Misalnya di dekat Beirut terdapat beberapa tambang besi, sebagai hasil pertumbuhan industri, pertambangan, selain itu juga ada marmer di tibris, garam dan karbit di utara Persia dan lain sebagainya.

Ada beberapa kota industri yang sangat terkenal diantaranya:

- Basrah yang terkenal dengan industri sabun dan gelas.

- Kuffah yang terkenal dengan dustri sutera.

- Damaskus yang terkenal dengan industri kemeja yang sampai sekarang masih terkenal yaitu kemeja”ad damaqs”.

- Mesir yang terkenal denagan aneka ragam industi tekstilnya.

- Andalusia yang terkenal dengan industri kapal dan industri senjada.

- Perusahaan Penenunan permadani di Tabaristan dan Armenia.

- Selain itu juga ada Bagdad yang berkedudukan sebagai ibukota dan memiliki banyak industri. Menurut sejarah kota bagdad memiliki kincir air lebih dari 400 kincir air, 4000 pabrik gelas, 30.000 kilang keramik dan masih banyak industri-industri yang lain.

Dengan ini, dapat dilihat perkembangan dalam bidang industri juga tidak kalah dengan bidang-bidang yang lain.

3. Perdagangan.

Bidang perdagangan juga sangat diperhatikan pada zaman abbasiyah ini. Hal ini terlihat dalam berbagai usaha yang ditempuh oleh para khalifah untuk memejukan perdagangan yatu diantaranya:

- dibangun sumur-sumur dan tempat-tempat peristirahatn di jalan-jalan Yang dilewati oleh para kafilah dagang.

- Dibangun armada-armada dagang.

- Di bangun armada-armada untuk melindungi pantai-pantai dari serangan para bajak laut.

Adapun kota bagdad disamping sebagai kota politik juga merupakan kota perdagangan yang terbesar di dunia pada waktu itu. Setelah itu ada kota damaskus yang merupoakan kota perdagangan terbesar nomer dua sebagai pusat perdagangan bagi kafilah-kafilah dagang dari asia kecil dan daerah-daerah yang menuju ke negri arab dan mesir.

Untuk menghindari penyelewengan-penyelewengan dalam hal perdagangan khalifah Harun al Rasyid membentuk suatu badan khusus yang bertugas mengawasi pasar dagang, mengatur ukuran timbangan, menentukan harga pasaran, atau dengan kata lain mengatur pilitik harga. Adapun sebab-sebab kemajuan sektor ini:

q Adanya pembukaan wilayah-wilayah baru yang memberi banyak ruang pasaran perniagaan

q Perkembangan industri perkapalan yang memudahkan pergerakan para pedagang

q Sarjana-sarjana islam menghasilkan karya-karya yang menjelaskan hukum-hakam perniagaan seta galakan terhadapnya

q Kemahiran orang arab dalam bidang perniagaan sejak zaman jahiliah

q Adanya langkah-langkah positif yang diambil oleh kerajaan abbasiyah untuk menggiatkan aktivitas perdagangan, seperti :

- Membina pusat perniagaan yang dilengkapi dengan perigi dijalan-jalan utama.

- Membina rumah api untuk panduan kapal perdagangan.

- Mengetatkan kawalan keselamatan untuk mengelak daripada perampok dan penjahat.

3. Dalam Bidang Militer.

Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Diantara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oksus dan India.[20]

Puncak keemasan dalam bidang ini terjadi pada masa khalifah harun ar-Rasyid. Hal ini disebabkan kepandaiannya dalam mengurus persoalan negara. Beliau dapat membrantas segala kekacauan dan pemberontakan di dalam negaranya. Misalnya, beliau memberantas pemberontakan gubernur-gubernur di Afrika dengan bertindak mengantar Ibrahim Ibn Aghlab ke sana.

Selain itu, beliau juga menyusun semula pasukan tentaranya supaya menjadi sebuah pasukan tentara yang berdisiplin dan teratur, mengambil berat terhadap kredibiliti tentra-tentaranya dan memberi perlindungan serta keselamatan untuk kesejahteraan rakyatnya. Sikap prihatinnya menyebabkan sepanjang zaman pemerintahannya negara berada dalam keadaan aman damai.

Pada masa Al-Mu'tashim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa daulat Umayyah, dinasti abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat.

Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindik di Persia, gerakan Syi'ah, dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. Semuanya dapat dipadamkan.

1) Pembaharuan dalam bidang ketentaraan yang dilakukan oleh kerajaan Abbasiyah:

a. Membuka keanggotaan tentara kepada orang bukan arab seperti Turki dan Persia.

b. Memperbaiki struktur organisasi ketentaraan.

c. Memberi gaji dan bonus yang lumayan kepada tentara.

2) Struktur organisasi ketentaraan kerajaan Abbasiyah:[21]

a. Struktur organisasi

é Khalifah

é Al-wazir

é Diwan al-jund (kementerian pertahanan)

b. Kementerian pertahanan dibagi menjadi 8:

1) Bagian Keuangan (Majlis Takrir)

· Mengurus hal-hal gaji dan bonus para tentara.

· Mengurus hal-hal yang berhubungan dengan ketentaraan.

· Mengurus pengeluaran khusus untuk pengurusan, latihan dan peralatan ketenteraan.

2) Bagian Pelatihan (Majlis Al-Muqabalah)

· Mengurus pencarian dan pelatihan tentara baru.

3) Bagian Peninjau (Al-Massahuun )

· Membuat panduan dan menasihati penglima angkatan tentara tentang topografi sesuatu tempat.

4) Bagian Pengurusan Sumber Daya Manusia (Diwan At-Tasnif)

· Mengurus kenaikan pangkat

· Mengurus penyusunan pasukan dalam perang.

5) Depot simpanan ( Diwan Al-Aradh )

· Mengurus stor dan kelengkapan persenjataan

6) Bagian mata-mata ( al-Jawasis )

· Mengintip kekuatan dan kedudukan musuh serta tahap kesetiaan tentara Islam.

7) Bagian ketentaraan ( Dairah Al-Muhandasah )

· Mengurus pembinaan kem-kem tentera dan kubu-kubu pertahanan

8) Bagian tentara laut (al-Bahriah)

· Mengawasi perairan kerajaan Abbasiyah.

· Mengawasi kerja-kerja pembinaan kapal-kapal perang

· Menyusun angakatan laut

3) Fungsi tentara dalam menjaga keamanan negara terbagi menjadi 2 tugas:

1) Tugas utama

a. Mempertahankan keamanan negara dari serangan musuh.

b. Melawan dan membasmi musuh negara.

c. Menghadapi serangan darurat dari pihak musuh.

2) Tugas bantuan

a. Membantu pihak polis dan pihak penguasa awam dalam memelihara keamanan nasional dan operasi anti kekerasan.

b. Membantu pihak penguasa awam dalam menghadapi malapetaka dan pembangunan negara.

4) Faktor-faktor kejayaan tentara Islam pada zaman Abbasiyah:

a. Dasar ketentaraan yang terbuka. Keanggotaan tentara dibuka kepada orang bukan Arab seperti Persi dan Turki.

b. Pemimpin yang berkaliber. Para khalifah seperti Abu Ja'far Al-Mansur dan Harun Ar-rasyid amat memeperhatikan ketentaraan..

c. Peralatan ketentaraan yang canggih. Peralatan perang yang di buat sesuai dengan perkembangan zaman seperti Manjanik, Dabbabah, Baruud dan kapal perang.

d. Strategi peperangan yang berkesan. Ia sentiasa ditata sesuai dengan keperluan dan perkembangan zaman, seperti dari segi strukur ketentaraan maupun cara menyerang.

e. Keimanan dan semangat jihad tentara Islam. Tahap keimanan yang mantap, semangat jihad dan cinta kepada agama membantu mereka untuk berjuang bermatian-matian demi menjaga agama Islam daripada dihancurkan.

4. Dalam Bidang Kebudayaan.

Pada masa Abbasiyah terdapat berbagai macam corak kebudayaan. Diantaranya adalah kebudayaan Persia, arab, yunani dan hindia.Adapun hal yamg menyebabkan dinasti abbasiyah memiliki beragam kebudayaan, yaitu:

- Warga negara yang berasal dari berbagai bangsa.

- Pergaulan yang intim dan perkawinan campuran

- Kebutuhan akan ilmu pengetahuan yang menyebabkan keinginan utuk berkembang da meciptakan sesuatu yang baru.

- Pindahnya ibukota negara ke Bagdad.

- Adanya hubungan perdagangan dengan orang-orang yang berasal dari luar bagdad.

5. Dalam Berbagai Bidang Seni

a. Seni Bahasa

Perkembangan seni bahasa (kesusastraan), baik puisi maupun prosa semakin meningkat dan bisa dikatakan lebih baik dari pada zaman dinasti umayyah yang lebih cenderung mempertahankan kebudayaan arabnya bila di bandngkan dengan dinasti abbasiyah yang tidak hanya bercorak arab tapi juga menerima dari kebudayaan lain.

  1. Puisi.

Pada zaman Dinasti Abbasiyah ini telah lahir para satrawan yang membuat aliran baru dalam bidang puisi dan cenderung tidak kearab-araban.

Ciri-ciri khas sajak pada zaman abbasiyah adalah sebagai berikut:

- Adanya penggunanan kata-kata dan istilah dann ibarat baru.

- Pemakaian pengertian-pengertian baru karena luasnya khayal dan gaya bahasa para sastrawan.

- Penggunaan keindahan.

- Adanya sajak yang mengutarakkan cintsa dan kasih.

- Dan lain-lain.

Adapun factor-faktor yang membawa perubahan dalam dunia puisi pada zaman abbasiyah ini adalah:

- Karena berubahnya corak kehidupan dan nilai dunia.

- Karena adanya evolusi kehidupan benda.

- Karena meluasnya [engertian kebangsaan, yang melampaui batas-batas jazirah Arab.

- Karena danya pengaruh dsri kebudayaan asin.

- Karena adanya dukungan dari para khalifah kepada para penyair untuk terus berkembang dan lebih maju.

Diantara para penyair yang sangat masyhur pada zaman ini adalah:

  1. Abu Nawas (145-198H), yamg nama aslinya adalah Hasan Ibn Hani.[22] Beliau adalah penyair yang naturalis yang sangat perindu, pelopor pembawa aliran baru dalam sastra arab islam
  2. Abu Atahiyah (130-211H) yang nama aslinya adalah Ismail Ibn Qasim Ibn Suwaid Ibn Kisan. Beliau adalah penyair ulung pembawa perubahan, melepaskan diri dari ikatan-ikatan lama, menciptakan gaya dan pengertian baruu.
  3. Ibn Rumy (221-283H), nama aslinya adalah Abu Hasan Ali Bin Abbas. Beliau adalah penyair yang paling berani menciptakan tema-tema baru dan mempunyai kelebihan mengubah sajak-sajak panjang. Serta masih banyak lagi penyair-penyair yang lain yang tidak tidak dapat saya tuliskan satu persatu.
  1. Prosa.

Pada zaman dinasti abbasiyah prosa telah berkembnag subur dalam dunia sastra Arab. Banyak buku sastra, novel, riwayat, kumpulan nasehat dan uraian-uraian satra yang dikarang atau disalin dari bahasa asing. Selama masa ini prosa mengalami kemajuan yang sangat pesat dari masa ke masa, baik dari gaya bahasa maupun ibarat dan kandunan isinya.

Diantara tokoh-tokoh terkemuka dalam bidang ini adalah:

  1. Abdullah Ibn Muqaffa (wafat 143 h), pengarang prosa terbesar sebagai pelopor angkatannya dalam zaman Abbasiyah I. Ia telah merintis jalan baru bagi pengarang-pengarang prosa. Selain itu beliau juga telah menfaang berbagai buku terkenal diantaranya:[23]

- Kalilah Wa Dimnah, kitab ini diterjemahkan dari bahasa sansekerta, karangan seorang filosof hindia yang bernama Baidaba, berisi kisah-kisah binatang yang berintijkan filsafat ahlak untuk membina budipekerti dan membangun jiwa. Salinannya kedalam bahasa arab sangatlah indah dengan gaya bahasa muqaffa yang luar biasa (amazing).

- Kitabuladab As Shaghir, yang berisi mengenai ahalak, falsafah dan pergaulan.

- Kitabud Duratil Yatimah, yang berisi kumpulan nasehat dan pedoman hidup.

- Risalah Fil Ahklak, barisi berbagai masalah ahlak.

  1. Abdullah al Khatib, ia dipandang sebagai pelopor seni mengarang surat, sehingga cara-caranya mengarang surat kemudian menjadi satu naliran yang punya pengikut.[24]
  2. Al Jahidh ( wafat 255 H), karangan-karangan beliau diantaranya:[25]

- Kitabul bayan wat tibyan.

- Kitabul hayawan.

- Kitabul mahasin wal addldad.

- Kitabul bukhal.

- Kitabut taj, dan masih banyak lagi.

  1. Ibn Kutaibah (wafat 276H), nma lengkapnya adalah abu Muhammad Abdullah Ibn Muslim Ibn Kutaibah Ad Dainury, karangan-karangan beliau diantaranya:

- Uyunul Akhbar.

- Kitabul Maarif.

- Adabul Katib.

- Kitabul Musykilil Qur’an, dan sebagaunya.

Selain itu Pada zaman bani Abbasiyah, surat menyurat juga menjadi semakin penting dalam rangka penyelenggaraan sistem pemerintahan yang semakin kompleks. Masa Bani Abbasiyah sering disebut-sebut sebagai masa keemasan Sastra Arab. Karena Islam juga eksis di Andalusia (Spanyol), maka tidak ayal lagi kesusastraan Arab juga berkembang disana. Pada zaman Harun Al-Rasyid, berdiri Biro Penerjemahan Darul Hikmah. Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab).

b. Kisah dan Riwayat.

Novel asli kebanyakanbertemakan sifat-sifat baik dari orang Arab jahliyah, yang diangkat kembali dalam novel untuk membangkitkan semangat orang muslim untuk melawanmusuh atau membina semangat kemajuan.

Diantara novel-novel yang masyhur diantaranya:

- Alfu Lilah Wa Lailah hikayat 1001 malam yang di sadur dari bahasa Persia sebelum abad IV H.

- Alfu Samar (seribu malam panjang), pengarangnya adalah abu Abdullah Muhammad ibn abdul aal jahsyiary. Kisah dalam novel ini meniru 1001 mlam. Cinta berjalin dalam 1000 malam yang panjang antara dara-dara jelitta arab, Persia, romawi dan lainnya.

c. Seni musik.

Dalam masa daulah abbasiyah ini musik islam telah mencapai puncak kegemilangannya . dalam masyarakat daulah abbasiyah, ada empat kelas yang disebut dengan “kelas pertama”(athbaqatul ula), yaitu : para seniman ulama’, pedagang dan ahli tehnik.[26] Dengan adanya hal demikian maka sudah menjadi kewajaran kalau seni suara mencapai kemajuannya pada zaman itu.

Adapun para pengarang teori musik islam yang terkenal pada masa itu diantaranya:

- Yunus Bin Sulaiman Al Katib (w 765M).beliau adalah pengarang teori musik yang pertama dalam islam.

- Khalil ibn Ahmad (w.791M), beliau yang mengarang teori musik tentang “not dan irama”.

- Ishak ibn ibrahim al mausuly (wafat 850M), beliau adalah orang yang memperbaiki musik arab jahiliyyah dengan sisitem yang baru. Buku karangannya yang terkenal adalah”buku not dan irama”(Kitabul Ilhan Wal Ghanam). Beliau dijuluki sebagai “imamul mughanniyin”.

Selain itu pada zaman abbasiyah ini banyak didirikan sekolah-sekolah musik. Sekolah musik yang paling sempurna dan teratur adalah yang didirikan oleh Safi Ad Din Al Mukmin (wafat tahun 1294M). teori musiknya sangat dikagumi oleh barat. Adapun buku karangannya adalah “syarifa” dan buku modus musik (Book Of Musical Modes).

Pada zaman abbasiyah ini ada dua jenis musik yaitu musik vokal dan instrumental. Musik vocal ini sangat digemari sehingga melahirkan jenis musik lagi seperti qasidah, qit’a (fragment), ghazal (love song), dan mawal (song of beauty). Sedangkan untuk music instrumantal yang sering digunakan adalah “al ‘ud”,selain itu juga ada tanbur (dalam bahasa barat disebut pandor), tabl (drum), dan lain sebagainya.Untuk para penemu alat-alat musik yang terkenal pada masa itu adalah:

- Al Faraby, beliau menciptakan rabab dan qanun.

- Al Zuman, menciptakan nay zunamy.

- Al Zalal, menciptakan ‘ud ash-shabbut.

Selain perkembangan dalam berbagai bidang seni diatas perkembangan juga terjadi dalam bidang-bidang seni yang lain seperti:

- Seni pahat yang terdapat pada tembok-tembok istana kota samara, yang memperlihatkan rupa berbagai binatang, manusia dan lain sebagainya sehingga istana tersebut menjadi indah.

- Seni ukir yang dapat di ketahui pada “qubah empat” yang dibangun oleh al mansur diatas empat buah pintu masuk kota bagdad, dan masih banyak lagi.

Kalau kita berbicara tentang Masa kejayaan Abbasiyah memang tidak akan ada habisnyakarena pada masa ini umat Islam merasa sebagai umat yang sempurna. Sedangkan pada waktu yang bersamaan bangsa barat masih dalam kegelapan dan belum mengalami masa Renaissance.

C.Faktor-Faktor Pendukung Kemajuan Daulah Abbasiyah

Ada beberapa faktor yang mendukung bani Abbasiyah ini serhingga mampu mencapai masa-masa keemasan. Adapun factor-faktor tersebut adalah:[27]

a. Faktor Politik

1. Pindahnya ibu kota negara dari al- Hasyimiyah ke Bagdad yang dilakukan oleh khalifah al- Mansyur. Disamping itu kekuasaan islam di bagi menjadi dua: bagian arab yab\ng terdiri atas Arabia, irak, suriah, palestina, mesir dan afrika utara berpusat di mesir dan bagian Persia yang terdiri atas Balkan, asia kecil, Persia dan asia tengah berpusat di iran. Semua ini merupakn pusat-pusat ilmu pengetahuan dan filsafat yunani.

2. Banyaknya cendekiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintah dan istana. Khalifah-khalifah abbasiyah, misalnya al-mansur, banyak mengangkat pegawai pemerintahan dan istamna dari cendekiawan-cendekiawan Persia. Yang terbesar dan banyak berpengaruh pada mulanya adalah kelaga barmak, seperti jabaan wazir yang di pegang oleh Khalid ibn Barmak dan kemudian turun-temurun sampai pada anak dan cucu-cucunya.

3. Diakuinya Mu’tazilah sebagai madhab resmi negara pada masa al-makmun pada tahun 827 M. Muktazilah ini adalah aliran yang menganjurakan kemerdekaan dan kebebasan berfikir kepada manusia. Aliran ini telah berkembang dalam masyarakat terutama pada masa daulah Bani Abbasiyah I.

b.faktor sosiografi

1. Meningkatnya kemakmuran umat Islam pada watu itu. Menurut ibn khaldun sebagai mana dikutip oleh Ahmad amien, ilmu itu seperti industri, banyak atau sedikitnya tergantung pada kemakmura, kebudayaan, dan kemewahan masyarakat. Kkemakmuran yang telah dicapai pada masa itu dapat kita lihat dari fakta-fakta yang telah saya terangkan pada makalah saya ini.

2. Luasnya wilayah kekuasaan islam menyebabkan banyak orang Romawi dan Persia yang masuk islam dan kemudian menjadi muslim yang taat. Hal ini menyebabkan perkawinan campuran yang melahirkan keturunan yang tumbuh dengan memadukan kebudayaan kedua orang tuanya. Adapun hal ini banyak dilakukan oleh pembesar-pembesar abbasiyah, seperti khalifah, panglima, gubernur dan lan sebagainya. Golongan keturuna ini sangat menonjol pada zanman abbasiyah karena mereka memliki banyak keistimewaan dalam bentuk tubuh, kecerdasan akal, kecakapan berusaha, berorganisasi, berpolitik dan terkemuka dalam bebagai bidang kebudayaaan.

3. Pribadi para khalifah pada masa itu, terutama pada masa dinasti abbasiyah I, seperti al Mansur, harun al rasyid dan al makmun yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga kebijaksanaannya banyak di tujukan kepada kemajuan ilmu pengetaha.

4. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional.

Selain itu menurut Badri Yatim dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Peradaban Islam” menyebutkan bahwa masa keemasan dinasti abbasiyah ini juga ditentukan oleh factor-faktor sebagai berikut:

  1. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
  2. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
  3. Adanya perbedaan-perbedaan yang signifikan dengan bani umayyah sehingga bani abasiyah ini lebih unggul bila dibandingkan dengan bani umayyah, perbedaan-perbedaan itu adalah:

a. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Ummayah.

b.Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional.

Dalam TAMADUN ISLAM (sebuah situs internet Malaysia) disebutkan, bahwa faktor yang mempengaruhi Bani Abbasiyah sehingga mencapai puncak kejayaannya, yaitu:

1.Adanya Kestabilan politik, yaitu dengan memberi perhatian serius kepada penumpasan pemberontakan dan pergolakan dalam negara.

2.Adanya dasar politik kerajaan Abbasiyah yang memberikan layanan yang adil kepada semua rakyat tanpa membedakan bangsa dan keturunan dan juga adanya hubungan diplomatik yang baik antara pemerintah Abbasiyah dengan negara luar.

3.Kedudukan Baghdad yang strategis, yaitu berada ditengah-tengah lintasan para pedagang timur dan barat yang menjadikannya sebagai pusat kegiatan perdagangan dan pusat pertemuan sarjana timur dan barat.

4.Adanya kebebasan dalam menjalankan ajaran agama selagi tidak merongrong keamanan negara .

5.Adanya Penghayatan konsep kerja sebagai ibadah yang mendorong para sarjana untuk mengkaji tentang muamalah menurut islam

Dari sekian banyak faktor-faktor yang disebutkan, pada haikatnya tidak ada perbedaan yang signifikan. Ini hanya sebagai pelengkap dari beberapa pendapat para ahli yang mungkin kurang sempurna bagi saya, sehinga saya perlu menggabungkanya dengan pendapat-pendapat yang lain termasuk juga sumber-sumber dari internet dan buku-buku referensi yang saya baca, dengan tujuan agar saya bisa mengetahui factor-faktor yang mempengaruhinya, menganalisa, dan mampu mengambil manfaatnya.

III. KESIMPULAN.

Zaman pemerintahan Abbasiyah yang pertama merupakan puncak keemasan dinasti ini. Secara politis, para kholifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran, masyarakat mencapai tingkat tertinggi, kaum muslimin mulai berhubungan dengan kebudayaan asing, seperti kebudayaan Persi, Hindu, dan Yunani. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat.

Disamping itu Dinasti Abbasiyah (750 – 1208 M) juga merupakan dinasti yang menelurkan konsep – konsep keemasan islam dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan. Zaman keemasan islam yang ditandai dengan penguasaan ilmu pengetahuan diberbagai sektor telah membawa kemakmuran tersendiri pada masyarakat saat itu.

Kemajuan di segala bidang yang diperoleh bani Abbasiyah menempatkan bahwa bani Abbasiyah lebih baik dari bani Umayah. Di samping itu, pada masa dinasti ini banyak terlahir tokoh-tokoh intelektual muslim yang cukup berpengaruh sampai saat ini.

Ada beberapa factor yang mendukung bani abbasiyah ini sehingga mampu mencapai masa-masa keemasan. Dan dari sekian banyak faktor yang saya sebutkan pada makalah saya ini tidak ada yang dominan karena satu sama lain saling terkait dan saling menopang.

IV. PENUTUP

Demikianlah makalah ini saya susun dengan menganalisa berbagi sumber kepustakaan dan dari internet yang sudah saya pelajari. Saya sadar masih banyak kekuramgan dalam makalah saya ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat saya harapkan guna perbaikan dalam penyusunan-penyusunan tugas maupun makalah di masa yang akan datang.

Akhirnya tiada kata seindah do’a yang dapat saya sampaikan, semoga makalah saya ini berguna bagi kita semua, khususnya diri saya pribadi dan agar dengan makalah ini diskusi kita bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Amin…



[1] W. moontgomery watt, kejayaan islam: kajian kritis dari tokoh orientalis,yogyakarta:tiara wacana, 1990.hlm.154

[2] Syed Mahmud Annasr, Islam Its Concept And History, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1981) hlm,185.

[3] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2004)Hlm,44.

[4] Ibid, hlm,45.

[5] Asal mula mawali, yaitu budak budak tawanan perang yabg telah di merdekakan. Kemudian, istilah ini berkembang menjadi semua orang islam yang bukan bangsa arab,sebagai ejekan. Latar belakang istilah ini muncul pada masa Umayyah yang telah memunculkan semacam politik kasta.

Politik kasta inilah yang membangkitkan lagi semangat fanatisme Arab yng telah lama terhapus semenjak kedatangan islam sampai masa khulafaurrasyidin. Pada zaman politik kasta ini dihapus total dan diganti dengan politik agalitarianisme.

[6] Seribu satu malam merupakan bukti ekspresi dari universalitas ajaran islam.

[7] Menurut pendapat Rumadi, mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarahat(P3M),

[8] Kepala Baitul Hikmah yang pertama adalah Yahya Ibn Musawaih(777-857M) murid dari Jibril Ibn Bakhtisyu, dan ketua kedua adalah Hunain Ibn Ishak murid Yahya sendiri dan Hunain ini adalah seorang Kristen yang pandai berbahasa Arab dan Yunani. Sebagian ilmuan berpendapat bahwa usaha ilmiah terpenting yang dijalankan Baitul Hikmah ini terjadi pada masa di kepalai oleh Hunain. Ia berhasil memindahkan kebahasa arab isi kandungan buku-buku karangan Euclide, Galen, Hipocrates, Apollonius, Plato, Aristoteles, Themitius, perjanjian lama, dan sebuah buku kedokteran yang disusun oleh Paulus Al Agini dengan bantuan dari para penerjmah yang ada di Baitul Hikmah ini.

[9] Cyril Glasse,Ensiklopedi Islam(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1996),Hlm.56.

[10] Perpustakaan dan Kebangkitan Umat.http://www.myquran.org/forum/showthread.php? t:3340.

[11] A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam,(Jakarta: Bulan Bintang,1975),hlm,230.

[12] Ibid, hlm, 230-231.

[13] Ibid,hlm.231.

[14] Dalam kitab ini beliau mengawinkan antara ajaran tasawuf dengan ajaran hidup bermasyarakat, sehingga jadilah ilmu tasawuf itu sebagai ilmu yang dibukukan setelah sebelumnya hanya sistem ibadah saja. (lihat. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 233).

[15] Pada masa Harun al-Rasyid, al-Fadhl Ibnu Nawbakht (w. 815 M) menerjemahkan beberapa karya astronomi Persia. Bahkan melalui penerjemahan Kalilah wa Dimnah oleh Ibnu Muqaffa’ (w. 757 M), pengaruh kesusasteraan menjadi sedemikian besar dalam dunia Islam.. Beberapa karya dari India yang juga diterjemahkan antara lain adalah sebuah risalah sansekerta tentang astronomi berjudul Sidhanta diterjemahkan oleh al-Fazzari atas perintah Khalifah al-Mansur. Itulah sebabnya, al-Fazzari dikenal sebagai ahli astronomi pertama dalam Islam.

[16] Seyyed Hossein Nasr, Sains Dan Peradaban Di Dalam Islam (Bandung:Pustaka,1968), hlm.110.

[17] selain al hawarizmi juga ada nama umar khayyam. Ia sangat popular di dunia barat lewat terjemahan rubaiyat dan kuatrain-nya yang sangat indah. Beliau ahli dalam bidang matematika, selain itu ia juga ahli dalam bidang filsafat dan astronomi. Sayangnya beliau hanya sedikit menulis tentang bidang ini dan beberapa karyanya pun telah hilang.

[18] Al-razi atau dalam bahasa latin kita kenal dengan Rhazes,seperti yang telah kita lihat pada bidang kedokteran, adalh seorng dokter. Tapi sebelum beralih ke bidang ini, menurut cerita beliau adalh seorang ahli kimia. Dikarenakan percobaaan kimia yang cukup melelahkan, penglihatannya mulai kabur dan dengan puts asa ia meninggalkan praktek tersebut lalu kemudian ia beralih profesi.

[19] A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam,(Jakarta: Bulan Bintang,1975),hlm.208.

[20] Carl Brockelman, History Of The Islamic People, (London: Roudledge&Kegan Paul, 1982), hlm, 111.

[21] www.sabah.edu.my/cwm 010/abbasiyah_ketentaraan.htm.

[22] Beliau juga anak asuh Harun Ar- Rasyid, hidup di dalam istana dan sering membuat para penguasa-penguasa abbasiyah tertawa dengan cerita-cerita beliau.

[23] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam,( Jakarta: Bulan Bintang,1975), hlm.268.

[24] ibid.

[25] ibid.

[26] ibid, hlm.276.

[27] Munthoha,Pemikiran Dan Peradaban Islam,(Yogyakarta: UII Press, 1998),hlm42-44.


DAFTAR PUSTAKA

A.Hasymy, Sejarah Kebudayan Islam, Jakarta: Bulan Bintang,1975.

As Syarsabi, Ahmad, Empat Mutiara Zaman Biografi Empat Imam Madhab, Libanon: Darul Jail, 2003.

Ira, M. Lapidus, Sejarah Social Umat Islam Bagian 1dan 2, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2000.

Ahmad, H. Zaenal Abidin, Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang,Jakata: Bulan Bintang,1977.

Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2004.

Watt, W. Montgomery, Kejayaan Islam Kajian Kritis Dari Tokoh Orientalis, Yogyakarta: PT Tiara Wacana,1990.

Munthoha,dkk, Pemikiran Dan Peradaban Islam, Yogyakata:UII Press,1998.

Mubarok, H. Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisi,2004.

Nasr, Seyyed Hossein, Sains Dan Peradaban Di Dunia Islam,Bandung: Pustaka,1968.

Syalabi, Ahmad, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka al Husna,2003.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2004.

M. Syarif, Para Filosif Muslim, Bandung: Mizan, 1985.

Annasr, Syed Mahmud, Islam Its Concept And History, New Delhi: Kitab Bhavan, 1981.

K. Hitti,Phillip, History Of Arab,London: The Macmillan Press LTD, 1974.

Glasse, Cyril, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1996.

Tim IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1992.

Brockelman, Carl History Of The Islamic People, London: Roudledge&Kegan Paul, 1982

www.sabah.edu.my

Wikipedia, the free encyclopedia/ Masa Keemasan Islam Abbasiyah/.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home